selamat datang di pulau kembang

Pulau Kembang

WISATA BANJARMASIN, WISATA KALSEL

Indonesia memiliki beragam tempat yang unik dan tak habis untuk dieksplorasi. Diantaranya berbentuk kebudayaan serta panorama alam yang menakjubkan. Seperti yang ada di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selain keindahan sungai Barito, Banjarmasin juga menyimpan sebuah tempat unik dan patut untuk dikunjungi, baik berupa Wisata Alam, Wisata Buatan Modern, Wisata Religius, Wisata Sejarah/ Budaya dan Wisata Adat khas Melayu Banjar. Salah satu objek wisata yang dikembangkan daerah provinsi Kalimantan Selatan adalah objek wisata alam Pulau Kembang.

Lokasi Pulau Kembang

Pulau Kembang
Lokasi Pulau Kembang di lihat dari google maps

Pulau Kembang adalah salah satu primadona yang ada di Banjarmasin, yang bisa kita kunjungi setelah Pasar Terapung. Pulau ini secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala. Namun untuk menuju kesana biasanya masyarakat melalui Kota Banjarmasin karena lokasinya lebih dekat yakni berada sebelah barat Kota Banjarmasin. Pulau yang terletak di tengah Sungai Barito ini pada dasarnya adalah sebuah delta yang terbentuk secara alami. Pulau Kembang merupakan hutan wisata yang berada dikawasan konservasi di bawah pemangkuan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan seluas 60 Ha. Pulau Kembang ini tidak dihuni manusia namun didominasi oleh fauna seperti kera ekor panjang dan bekantan. Meskipun tidak dihuni manusia pulau ini memiliki keterkaitan dengan masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin.

 Pulau Kembang, Kerajaan Kera di Banjarmasin

pulau kembang
Pulau Kembang pada zaman dulu

Pulau Kembang di sebut sebagai kerajaan kera karena terdapat ratusan bahkan ribuan kera di sini, dan konon menurut mitos orang setempat terdapat kera yang sangat besar yang di sebut raja dari para kera. Namun tidak hanya kera, kalau sedang beruntung kita bisa bertmu dengan Bekantan, yakni jenis kera ber ekor panjang yang mempunyai hidung yang mancung dengan warna kekuningan yang merupakan hewan khas pulau Kalimantan.
Mungkin beberapa orang bertanya-tanya, bagaimanakah kera yang begitu banyaknya ini bisa tinggal di pulau yang terbuat oleh alam yang tidak terhubung oleh daratan ini?
Menurut sejarah di ceritakan ada salah satu dari keturunan raja di Kuin tidak di karuniai keturunan. Menurut ramalan ahli nujum pada saat itu jika ingin memiliki anak maka harus berkunjung ke Pulau Kembang dengan mengadakan upacara badudus (mandi-mandi). Ramalan dan nasihat ahli nujum ini dilaksanakan oleh kerajaan. Setelah beberapa waktu sepulang mengadakan upacara di Pulau Kembang ternyata istri dari keturunan raja yang dimaksud hamil. Begitu bahagianya keluarga raja mendengar hal gembira tersebut. Maka raja yang berkuasa memerintahkan petugas kerajaan untuk menjaga pulau tersebut agar tidak ada yang merusak dan mengganggunya.
Petugas kerajaan yang mendapatkan perintah menjaga Pulau Kembang itu membawa dua ekor kera besar, jantan dan betina yang diberi nama si Anggur. Konon menurut cerita yang beredar setelah sekian lama petugas kerajaan ini menghilang secara ghaib tak diketahui kemana perginya. Sedangkan kera yang ditinggalkan berkembang biak dan menjadi penghuni Pulau Kembang (1)

Sejarah Pulau Kembang

Dahulu diantara nusantara terdapat kerajaan-kerajaan, baik kerajaan yang besar maupun kecil. Di Banjarmasin tepatnya Muara Kuin berdiri sebuah Kerajaan. Dalam penuturan yang diterima masyarakat secara turun-temurun diceritakan bahwa dalam kerajaan tersebut ada seorang Patih yang sangat sakti, berani dan gagah perkasa bernama Datu Pujung
Datu Pujung adalah sebuah gelar. Adapun nama asli beliau adalah Aria Malangkan tinggal di Tangga Ulin Amuntai, beliau hidup bertepatan pada masa pemerintahan Pengeran Suryanata sampai pemerintahan Pangeran Suriansyah. Beliau adalah salah seorang Datu diantara Datu-datu lainnya dalam hikayat Datu-datu Banjar. Beliau juga seorang Patih dari Kerajaan Banjar.

Pulau Kembang
Gambar Ilustrasi

Datu Pujung ini merupakan andalan dan benteng pertahanan terhadap orang-orang yang ingin menguasai atau berbuat jahat pada Kerajaan Kuin. Suatu ketika seperti yang dikisahkan orang tua dahulu datang sebuah kapal Inggris dengan membawa penumpang yang moyoritasnya orang Cina. Mereka diketahui ingin tinggal dan menguasai kerajaan Kuin. Untuk tercapainya niat mereka itu tentu mereka harus berhadapan dengan Datu Pujung. Ada ketentuan dan persyaratan yang diberikan oleh Datu Pujung jika ingin menguasai Kerajaan Kuin yaitu harus dapat melewati ujian yang ditetapkan yakni mesti bisa membelah kayu besar tanpa alat atau senjata. Ternyata persyaratan dari Datu Pujung ini tidak dapat dipenuhi oleh mereka yang ingin menguasai kerajaan tersebut. Demikian setelah itu Datu Pujung memperlihatkan kesaktiannya dan dengan mudah membelah kayu besar itu tanpa alat. Datu Pujung membuktikan kepada orang-orang yang datang berlayar itu bahwa persyaratan yang diajukan bukanlah omong kosong atau sesuatu yang mustahil. Disebabkan para pendatang yang ada dalam kapal Inggris itu tidak dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, maka oleh Datu Pujung diminta untuk membatalkan niat mereka menguasai kerajaan Kuin dan agar segera kembali ke negeri asalnya. Namun mereka bersikeras ingin tinggal dan menguasai Kerajaan Kuin sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena mereka mamaksakan kehendaknya, akhirnya Datu Pujung dengan kesaktiannya menenggelamkan kapal beserta seluruh penumpang yang ada didalammnya.
Setelah sekian lama, bangkai kapal yang ada dipermukaan air itu menghalangi setiap batang kayu yang hanyut. Dari hari ke hari semakin banyak kayu-kayu yang bersangkutan hingga menjadi sebuah tumpukan dan kemudian dari tumpukan itu tumbuhlah pepohonan hingga jadilah sebuah pulau yang ada di tengah sungai. Cerita tentang tenggelamnya kapal dengan para penumpangnya yang kebanyakan etnis Cina tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Sehingga mereka yang berasal dari keturunan Cina pun banyak yang mengunjungi pulau tersebut untuk mengenang dan memberikan penghormatan kepada jasad yang terkubur di situ. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya sebuah tempat penyembahyangan orang Cina, yakni sebuah tempat pemujaan bagi etnis china (Tionghua) di sertai replika monyet putih (hanoman) sebagai simbol penjaga pulau kembang. Maka jadilah pulau ini sebagai tempat penyampaian doa dan nadzar, terutama bagi mereka orang cina yang mempunyai ikatan batin atas keberadaan pulau itu.
Dahulu satiap orang cina yang berkunjung ke sana membawa sejumlah untaian kembang (bunga-bungaan), dan karena berlangsung sepanjang waktu dengan waktu yang lama terjadilah tumpukan kembang yang sangat banyak. Mereka yang melintasi pulau itu selalu melihat dan menyaksikan tumpukan kembang yang begitu banyak. Karena selalu menarik perhatian bagi mereka yang melintasi tempat ini dan menjadi penanda maka untuk menyebutnya diberi nama dengan Pulau Kembang. Lama-kelamaan nama Pulau Kembang semakin dikenal dan ramai dikunjungi orang dengan niat dan tujuan yang berbeda-beda. Misalnya ada yang mengeramatkan dan mempercayai mitos-mitos tertentu atau sekedar ingin tahu keberadaan Pulau Kembang yang telah melegenda itu. (2)
Namun di sayangkan belakangan ini sebagian Ummat Muslim yang awam juga mengkeramatkan tempat tersebut, dengan di dirikannya sebuah tempat untuk ritual yang di yakini bisa memberi manfaat tertentu.

Rute Menuju Pulau Kembang

Untuk menuju ke Pulau Kembang kita bisa melalui beberapa akses kesana, di antaranya yang paling sering di lewati wisatawan yakni melalui: Siring Sungai Martapura dan Kampung Muara Kuin.

pulau kembang
Perahu Klotok di siring sungai martapura

Kalau kita lewat Siring Sungai Martapura kita bisa menyewa klotok yang setiap hari mangkal disana dengan tujuan Pulau Kembang, kalau hari-hari biasa agak sepi jadi biasanya kita sewa nya bukan perorangan tapi per setiap klotok dengan biaya kurang lebih 300.000/klotok. Namun kalau kita berangkat ke pulau kembangnya pada hari libur / minggu, biasanya banyak wisatawan juga yang hendak kesana, jadi kita bisa hanya membayar 35.000/orang kalau sudah cukup penumpangnya minimal 12 orang, kita langsung di antarkan ke tujuan. Lama perjalanan ke Pulau Kembang kurang lebih 1 jam, selama perjalanan kita akan melihat keindahan sungai Martapura dan Sungai Barito yang terkenal itu, kehidupan masyarakat di sekitar sungai beserta beberapa kapa-kapal yang sengaja parkir di pinggiran sungai Barito.

Pasar terapung kuin
Pasar Terapung Kuin

Dan kalau kita melalui Kampung Muara Kuin kita bisa langsung charter/menyewa klotok yang tersedia disana (ada juga di dekat Masjid Sultan Suriyansyah), kalau melalui kampung muara kuin ini lebih bagus kalau berangkat nya sebelum matahari terbit (setelah Sholat Shubuh), karena kita melalui wisata Pasar Terapung Muara Kuin, jadi kita bisa sekalian menikmati salah satu wisata yang terkenal di Kota Banjarmasin tersebut. Lama perjalanan melalui kampung muara kuin ini lebih singkat mungkin sekitar 45Menit, karena jarak yang di tempuh tidak terlalu jauh, namun itu belum waktu kalau kita berhenti di Wisata Pasar Terapungnya loh ya.
Setelah kita sampai ke dermaga pulau kembang kita akan di sambut puluhan kera-kera yang siap menyerbu klotok kita untuk “merazia” (bahasa pak polisi..hhe) makanan yang ada di dalam klotok. Biasanya yang paling banyak di serbu adalah jenis buah, terutama buah pisang, jadi kalau memang tidak takut sama kera kita bisa membawa buah pisang kesana, yah anggap saja sebagai oleh-oleh untuk penghuni di sana. Namun kalau masih takut dengan kera tidak usah membawa apa-apa saja, agar tidak di deketin sama kera-kera disana.

Suasana di Dalam Pulau Kembang

pulau kembang
Suasana di dermaga Pulau Kembang

Tiket masuk ke tempat wisata Pulau Kembang tergolong cukup murah, hanya dengan Rp.7.500/orang (untuk wisatawan lokal) kita sudah bisa masuk dan ber interaksi langsung dengan ratusan kera disana. Untuk mengelilingi pulau kembang kita di sediakan jembatan, karena tanah disana sebagian rawa jadi tidak bisa di lewati. Setelah masuk ke dalam kita akan di sambut oleh 2 buah patung kera putih (hanoman) dan seperti kuil kecil yang di pakai untuk tempat ziarah bagi etnis tionghoa (berdasarkan sejarah mereka mempercayai di sana tempat terkuburnya nenek moyang mereka).

pulau kembang

Di dalam pulau kembang juga tersedia kamar mandi dan juga warung yang jual makanan-makanan ringan dan minuman, namun jangan sesekali memperlihatkan makanan atau minuman di sana yah, soalnya nati pasti akan di rebut sama kera-kera disana (Pengalaman pribadi saya waktu beli minuman botol di sana, dan ketika keluar dari warung langsung di rebut oleh kera, hehe), jadi kalau hendak makan atau minum lebih baik di dalam warung saja, karena di sana ada penjaganya yakni ibu-ibu yang jualan di warung dengan membawa pentung sakti yang siap menghertak kalau ada kera yang mendekat ke warung.

pulau kembang
kera sedang bermain-main

Sebenarnya kera-kera disana tidak galak kepada pengunjung, tidak ada yang menggigit ataupun mencakarnya dan merekapun tidak takut takut kepada pengunjung, namun biasanya pengunjung disana takut dengan kera-kera tersebut karena jumlahnya yang sangat banyak dan berkelompok membuat perasaan jadi was-was, ya mungkin karena kita tidak terbiasa aja dekat dengan kera-kera disana. Namun bagi pengunjung yang takut dengan kera disana tenang saja, karena di sana ada juga petugas yang siap mendapingi selama kita keliling disana, mereka lah yang akan melindungi kita kalau ada kera yang akan mendekat. Mereka juga sambil menjual makanan ringan berupa kacang kulit yang biasanya pengunjung membeli snack tersbut dan di berikan kepada kera-kera disana. Untuk petugas yang mendampingi tersebut biasanya mereka menerima se ikhlas nya saja sebagai upahnya, tapi juga jangan sadis lah ngasihnya.. hehe.. Pengalaman yang seru pasti ketika kita bisa ber interaksi langsung, bercengkrama dengan para kera di alam bebas sambil memberi makan kepada mereka, membuat kita seakan sedang memberi makan kepada hewan peliharaan kita sendiri.

Foto – Foto di Pulau Kembang

 pulau kembang
Ucapan selamat datang di pulau kembang
pulau kembang
Pemandangan di sekitar sungai barito menuju pulau kembang

 

pulau kembang
Seekor warik/kera sedang berusaha minum teh

 

Pulau Kembang
Sekelompok kera sedang mengikuti para pengunjung

Sumber:
(1) Wahyudi Ilham, Bambang Subiyakto, Titik Sundari dkk, Pesona Taman Wisata Alam Pulau Kembang; Hikayat Si Anggur-Raja Kera Penguasa, (Banjarmasin: t.p., 2011), hal. 12.
(2) https://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/02/26/asal-usul-pulau-kambang-dan-kera-penghuninya/
http://sejarahpulaukembang.blogspot.co.id/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Kembang
– Kera dalam bahasa Banjar di sebut “Warik”
– Klotok ialah Perahu khas kalimantan

Leave a Reply